- help me... suparlan
- menaikkan frame rate gam... secxentz_all
- [web based]DemoKrezy game... chonang_co
- [Web Text Based Game] Tra... silverster
- [web based]DemoKrezy game... chonang_co
- Game PC paling berkesan m... Anything but Ordinary
Berita Lain
-
Kamis, 08/01/2009 18:12 WIB
CES 2009 Dinaungi Awan Krisis -
Kamis, 08/01/2009 16:17 WIB
Obama Siap 'Berjuang' Demi Blackberry -
Kamis, 08/01/2009 13:29 WIB
Blogger di China Lampaui 50 Juta -
Kamis, 08/01/2009 09:28 WIB
Ingin Seperti MIT, Kampus Telkom Genjot Budaya Meneliti -
Kamis, 08/01/2009 07:33 WIB
Edan! Belajar Nyetir dari Game, Bocah 6 Tahun Larikan Mobil -
Kamis, 08/01/2009 07:08 WIB
Jadi Obyek Ilmu Sihir, Kaum Albino Andalkan Ponsel
Indeks Berita
Rabu, 03/12/2008 15:22 WIB
WOSOC 2008
Enaknya Jadi Pengembang Software Nokia
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Ariya Hidayat (rou/inet)
Setidaknya demikian menurut Ariya Hidayat, Software Engineer Nokia yang sehari-harinya bermarkas di Oslo, Norwegia.
"Di Nokia, kami diberi kebebasan penuh untuk berekspresi," kata pria lulusan ITB dan University of Paderborn, Jerman, ini kepada detikINET di sela WOSOC 2008 di Hotel Dynasty, Bali, Rabu (3/12/2008).
Dalam kapasitasnya sebagai pemrogram open source Qt Software di Nokia, Ariya tidak pernah merasa kesukaannya akan suatu platform dibatasi perusahaannya. Bahkan, Nokia pun tak pernah mempermasalahkan kekurangsukaan pegawainya atas ponsel Nokia itu sendiri.
"Saya sehari-hari pakai iPhone meski dari kantor dapat jatah E61. Nggak masalah kok. Kantor tahu saya tidak suka sama ponsel ini," ujarnya.
Sebagai pegawai Nokia, Ariya juga terang-terangan suka dengan platform Android yang tengah dikembangkan Google. Bahkan, akunya, bos Nokia rela membelikannya ponsel G1 T-Mobile untuk sekadar jadi bahan presentasi Nokia.
"Tidak menutup kemungkinan nantinya Nokia akan kerjasama dengan Google untuk menyediakan layanan. Sebab, yang jadi nilai jual Nokia sekarang bukan cuma handset saja, tapi layanan. Misalnya, Nokia 5800 yang menggratiskan download lagu setahun penuh. Nah, value-nya dari situ. Sekarang, handset yang dijual hampir tak ada harganya lagi," papar pemilik gelar Doktor ini.
Mental Defensif
Kantor Nokia hampir mirip dengan kantor Google, mulai dari pingpong, Atari, sampai Nintendo Wii, ada. Kami juga dibebaskan soal absensi, yang penting result oriented," jelasnya.
Nah, kebiasaan kultur terbuka itulah yang kemudian membuat para pengembang software Nokia di Oslo akhirnya jadi punya kebebasan berekspresi, tak hanya terpatok pada satu platform tertentu, baik open source maupun proprietary.
Ariya sendiri sempat merasakan reverse culture shock setelah lama tak kembali ke Indonesia. Sebab, perusahaan pengembang dan software engineer lokal, menurutnya, terlalu mental defensif dan terikat pada suatu produk.
"Padahal seharusnya jangan begitu. Mental defensif harus ditinggalkan kalau mau maju," pungkas Ariya.
Liputan detikINET di ajang SITIS 2008 terselenggara dengan kerjasama dari Universitas Gunadarma.
( rou / dwn )
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga:
Klik di sini:
Informasi :
-. pemasangan webtorial dan iklan : iklan[at]detikinet.com.-. redaksional dan aktifitas offline : redaksi[at]detikinet.com
