- Free Games Download... rensee
- Upgrade Firmware PSP... cupuloe
- The Legacy of holy Castle... sirstar
- [Web Text Based Game] Tra... silverster
- [web Based] Heroes Online... HanHan
- Pro Evolution Soccer... placebo
Berita Lain
-
Rabu, 20/08/2008 11:21 WIB
Facebook Hasilkan Remaja Gemuk? -
Rabu, 20/08/2008 10:49 WIB
Ortu Izinkan Anak Drop Out untuk Main Game -
Rabu, 20/08/2008 08:09 WIB
Pakai Ponsel di Sekolah, Denda Ganjarannya -
Selasa, 19/08/2008 10:52 WIB
John McCain Tukang Plagiat Wikipedia? -
Selasa, 19/08/2008 08:20 WIB
Amerika Resah, Internetnya 'Bak Keong' -
Senin, 18/08/2008 09:51 WIB
Tak Bayar Upeti, BTS Operator Diserang Teroris
Indeks Berita
Kamis, 24/07/2008 08:54 WIB
Microsoft Innovative Teacher
Bolehkah Software Bajakan Dipakai untuk Pendidikan?
Fino Yurio Kristo - detikinet

Software Bajakan (Ist.)
"Di sekolah saya semua komputer memakai software bajakan. Bagaimana itu pak, boleh atau tidak?" demikian pertanyaan polos seorang guru di sela-sela acara di yang berlangsung di Yogyakarta ini.
Menanggapi hal itu, Rapin Mudiardjo, penggiat Teknologi Informasi dari ICT Watch menjelaskan bahwa hal semacam itu memang dilematis karena dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan. Namun memang jelas bahwa memakai software bajakan dilarang undang-undang.
Sebelumnya, dilema semacam ini juga menimpa warnet yang memakai software ilegal. Dan memang secara ekonomi, harga software berlisensi relatif mahal bagi masyarakat Indonesia.
Solusi yang sudah ditempuh misalnya dengan pendanaan laboratorium komputer yang sudah lengkap dengan software asli di sekolah, atau bisa juga dengan memakai software Open Source. Namun kendalanya, Open Source relatif belum memasyarakat sehingga banyak yang lebih memilih software bajakan.
"Memang ini masih menjadi pekerjaan rumah yang besar baik bagi pemerintah maupun pemegang lisensi, dalam hal ini Microsoft," tutur Rapin.
Tumbuhnya Generasi Digital
Pada kesempatan yang sama, hadir pula pemimpin redaksi Detikcom, Budiono Darsono. Seperti biasa, ia menyampaikan materi dengan guyonan-guyonan segar yang memancing tawa hadirin.
"Sekarang ini, generasi muda Indonesia tengah memasuki era digital. Kita sebagai orang tua jangan sampai ketinggalan, minimal mengerti barang sedikit," ungkap Budiono.
Anak-anak masa kini misalnya, memencet tombol pintu bukan lagi dengan telunjuk melainkan dengan jempol. Hal ini karena seringnya mereka memakai jempol untuk mengutak atik ponsel atau bermain game.
Metode konvensional dalam belajar pun sudah mulai ditinggalkan, karena anak-anak mulai senang mengakrabi komputer sebagai sarana belajar. Budiono meyakini bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama, makin banyak generasi digital yang berkembang di Indonesia.
Mau ngobrol seputar dunia teknologi informasi? Gabung saja di detikINET Forum.
( fyk / ash )
Komentar terkini (11 Komentar)
Baca juga:
Klik di sini:
Informasi :
-. pemasangan webtorial dan iklan : iklan[at]detikinet.com.-. redaksional dan aktifitas offline : redaksi[at]detikinet.com

